Tari Sanghyang Dedari: Warisan Sakral Bali dalam Ritual Penolak Bala



Tari Sanghyang Dedari merupakan salah satu tari sakral Bali yang bersifat religius dan memiliki fungsi utama sebagai sarana upacara adat. Tarian ini dipercaya sebagai media pemanggilan roh suci atau hyang, yaitu kekuatan ilahi yang datang untuk memberikan perlindungan dan menolak bala bagi masyarakat. Tari Sanghyang Dedari biasanya dipentaskan pada saat desa mengalami wabah penyakit, bencana, atau kondisi tertentu yang dianggap mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan spiritual masyarakat.

Ciri khas Tari Sanghyang Dedari terletak pada penarinya yang umumnya adalah anak perempuan yang masih suci dan belum mengalami menstruasi. Dalam pertunjukannya, para penari akan mengalami kondisi kerauhan (trance), yaitu keadaan tidak sadar yang diyakini sebagai pertanda bahwa roh suci telah merasuki tubuh mereka. Gerakan tari yang ditampilkan terlihat sederhana, lembut, dan alami, namun memiliki makna spiritual yang sangat mendalam karena bukan semata-mata hasil latihan teknis, melainkan diyakini sebagai kehendak dari kekuatan gaib yang hadir.

Pertunjukan Tari Sanghyang Dedari biasanya dilakukan pada malam hari di area pura atau tempat yang disucikan, dengan iringan nyanyian kidung atau suara vokal (tanpa gamelan) yang dilantunkan secara berulang oleh sekelompok orang. Iringan vokal inilah yang berfungsi sebagai sarana untuk mengantar penari menuju kondisi trance. Secara keseluruhan, Tari Sanghyang Dedari bukan hanya bentuk seni pertunjukan, tetapi juga merupakan warisan budaya sakral yang mencerminkan kuatnya hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam kehidupan masyarakat Bali.


You Might Also Like

0 $type={blogger}

Top Categories