Tri Hita Karana yang Menjadi Rahasia Harmoni Hidup di Bali

 

Banyak orang datang ke Bali untuk mengejar senja di Uluwatu atau menikmati hamparan sawah hijau di Ubud. Keindahan itu memang memikat, tetapi bila kita meluangkan waktu untuk memperhatikan lebih dalam, kita akan sadar bahwa daya tarik Bali sebenarnya bukan hanya pada alam fisiknya, melainkan pada "ruh" yang menghidupinya.

Pernahkah Anda terpikir, mengapa orang Bali terlihat begitu tenang meski sibuk dengan ribuan upacara? Atau kenapa pohon-pohon besar dibalut kain poleng dan setiap sudut jalan dihiasi bunga?

Semua itu bermuara pada satu filosofi yang menjadi napas kehidupan mereka yaitu Tri Hita Karana. Secara etimologi, kata ini berasal dari bahasa Sanskerta: Tri (tiga), Hita (kebahagiaan/kesejahteraan), dan Karana (sebab). Jadi, Tri Hita Karana adalah "tiga penyebab kebahagiaan".

Diadaptasi dari ajaran kearifan Hindu (seperti dalam konsep Upanishad), filosofi ini mengajarkan bahwa tujuan akhir hidup (Moksha) hanya bisa dicapai jika ada keseimbangan harmonis dalam tiga hubungan utama.

1. Parahyangan: Mengawali Hari dengan Mengingat Tuhan
2. Pawongan: Karena Kita Tidak Hidup Sendiri
3. Palemahan: Merawat Alam seperti Sahabat
Refleksi: Menata Ulang Harmoni

(Hubungan Manusia dengan Tuhan)

Bagi masyarakat Bali, Tuhan bukan hanya diingat saat hari raya besar. Keberadaan-Nya dihadirkan setiap hari di ruang paling pribadi. Setiap keluarga memiliki pura kecil (Sanggah atau Merajan) yang selalu ditempatkan di sisi timur laut (arah Kaja-Kangin) pekarangan, posisi yang dianggap paling suci secara spiritual.

Setiap pagi, sebelum roda aktivitas berputar, anggota keluarga, seringkali kaum ibu, namun tak jarang pula kaum bapak yang melakukan mebanten. Mereka menghaturkan canang sari dan menyalakan dupa di pelinggih. Ritual ini bukan sekadar transaksi meminta kelancaran rezeki, melainkan bentuk dialog rasa syukur karena masih diberi napas kehidupan. Intinya hari dimulai dengan kerendahan hati. Manusia diingatkan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari egonya sendiri.

(Hubungan Manusia dengan Sesama)

Aspek kedua, Pawongan, mengajarkan bahwa kesalehan sosial sama pentingnya dengan kesalehan ritual. Masyarakat Bali memegang teguh nilai Menyama Braya (memandang sesama sebagai saudara) dan Mwangsa (kesetiaan pada komunitas adat).

Wujud nyatanya terlihat jelas dalam sistem Banjar. Saat ada warga yang menikah, tetangga datang membantu (ngayah) tanpa diminta dan tanpa bayaran. Saat ada keluarga berduka atau hendak melaksanakan Ngaben, seluruh warga Banjar turun tangan menyiapkan segala keperluan.

Di Bali, gotong royong bukan sekadar konsep di atas kertas, tetapi bagian dari rutinitas harian. Ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi pulau-pulau yang terpisah; kebahagiaan dan beban hidup sejatinya harus dibagi bersama.

(Hubungan Manusia dengan Alam)

Aspek ketiga, Palemahan, menekankan harmoni dengan lingkungan. Orang Bali percaya bahwa alam memiliki jiwa yang harus dihormati, bukan sekadar dieksploitasi.

Penghormatan ini memiliki hari rayanya sendiri. Ada Tumpek Wariga (atau Tumpek Uduh/Pengatag), hari khusus di mana doa dipanjatkan agar pepohonan tumbuh subur. Selain itu, ada pula Tumpek Kandang, ritual untuk memuliakan hewan ternak dan peliharaan sebagai wujud terima kasih atas bantuan mereka dalam kehidupan manusia.

Filosofi ini juga tercermin dalam arsitektur rumah tradisional. Selalu ada ruang terbuka atau tanah (Natah) di tengah pekarangan. Fungsinya bukan hanya untuk resapan air, tetapi sebagai simbol keseimbangan kosmik yang membiarkan bumi tetap "bernapas" dan terhubung langsung dengan langit (Akasa).

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, Tri Hita Karana menawarkan oase ketenangan. Filosofi ini mengajarkan bahwa bahagia tidak melulu soal pencapaian materi atau karier yang menjulang, melainkan soal keseimbangan.

Mungkin, inilah oleh-oleh terbaik yang bisa kita bawa pulang dari Bali. Bukan sekadar gantungan kunci atau foto liburan, melainkan kesadaran baru. Kita bisa memulainya dengan hal sederhana: bangun pagi dengan ucapan syukur, menyapa tetangga dengan tulus, dan merawat tanaman di halaman rumah.

Dari ketiga nilai Tri Hita Karana, menurutmu mana yang paling menantang untuk dijaga di kehidupan kota besar?



You Might Also Like

0 $type={blogger}

Top Categories